Hai, sudah lama tak bersua. Apa kabar? Aku harap kalian baik-baik saja.
Rasanya kangen banget, udah hampir satu tahun aku gak menyapa di sini. Huh, kalo alesannya sibuk kedengeran nya klise banget ya?
Aku mau banyak cerita mulai hari ini, melakukan kebiasaan yang sempat aku tinggalkan. Kalian siap?
Hai, kali ini aku mau cerita tentang banyak hal yang udah aku laluin selama hampir satu tahun setelah ceritaku yang terakhir. Ya, seperti yang kalian tau, aku sekarang adalah mahasiswi yang merangkap sebagai pegawai juga. Iya guys, Satu tahun kemaren aku di kasih kesempatan buat belajar jadi guru. Wahh, kalian jangan nanya gimana rasanya, karena yang udah pasti sih rasanya campur aduk. Ada rasa seneng, seru, tapi juga ada rasa kesel dan pusing nya.
Why? Jadi seorang guru dan seorang mahasiswi sekaligus bukan hal yang gampang, temen-temen. Beberapa kali aku hampir nyerah, aku gak kuat. Walaupun kadang aku ngerasa bahagia bisa berinteraksi sama temen-temen kecil yang gak sedikit kasih banyak pelajaran buat aku.
Tapi masalahnya, ya, waktu ku yang kadang gak sebanding sama energi yang aku punya. Dari keduanya, sering kali harus aku korbankan salah satunya, dan itu kadang susah banget karena aku tetap aku yang punya ego tinggi dan belum dewasa.
Iya, kadang rasanya aku masih pengen banyak berinteraksi sama temen-temen di kampus, tapi di sisi lain aku masih punya tanggung jawan di kantor ku. Dan, ketika semuanya bentro, disitu pula ego aku berperang. Antara tanggung jawab dan hal yang aku pengen.
Sejujurnya aku capek banget, aku ngerasa hidup aku cuma gini-gini aja, flat. Aku dateng ke kantor, mengajar lalu berangkat kuliah di waktu yang sama-sama pagi dan akan pulang sore hari. Aku ingin mencoba hal yang baru karena jujur aku sedikit jengah dan lelah dengan rutinitas ku yang seperti itu. Aku ingin produktif seperti saat masa SMA.
Kalo boleh jujur lagi, sebenernya ada hal yang aku pengen tapi belum atau bahkan gak bisa terwujud. Ya, aku pengen lanjut main bola dan jadi atlet profesional. Tapi, kalo di liat dari peluangan sih kayanya mustahil. Umurku bukan lagi umur remaja, masa itu sudah lewat, dan aku menyesal. Andai saja, Andai saja dan hanya kata andai yang selalu berputar di otak ku saat ini.
Oh iya, ngomongin soal main bola, aku juga mau cerita sama kalian. Akhirnya Alhamdulillah aku berhasil mewujudkan salah satu mimpiku, mimpiku dari kecil. Iya, salah satu mimpi ku adalah bisa nonton timnas secara langsung di stadion, dan ya, aku berhasil mewujudkan itu, gak cuma sekali tapi tiga kali. Rasanya candu sekali, aku ingin terus menonton.
Dan guys, timnas Indonesia kita tuh lagi di masa bagus-bagusnya, ada banyak pemain keturunan yang ahirnya memilih Indonesia dan berjuang bersama, menorehkan prestasi untuk bangsa. Aku bangga dan terharu. Tapi, di tengah-tengah rasa itu akupun merasa sedih.
Bukan, bukan aku gak seneng sama perkembangan timnas yang sekarang, cuma aku ngerasa aku semakin stuck dan gak punya apa-apa untuk bersinar. Setiap saat aku hanya meratapi kisah aku yang haus validasi orang-orang.
Aku terharu, aku kenal mereka, punggawa Garuda dari masa mereka remaja, aku merasa kita tumbuh bareng. Tapi, sepertinya hanya mereka yang berkembang, sementara aku sama. Tidak ada perubahan, tetap mendukung mereka di balik layar.
Aku sedih, aku sedih karena mereka di umur yang hampir sama atau bahkan sama dengan ku berhasil bersinal, menorehkan banyak prestasi. Sedangkan aku hanyalah sebuah beban. Bahkan sepertinya, Jika aku tidak ada di Indonesia, negara ini pun tidak rugi kehilangan aku. Beda dengan mereka, Para punggawa Timnas idola ku yang kehadiran nya sangat berharga.
Lagi-lagi aku terjebak, aku gak tau di mana jalan keluarnya, tolong. Tolong bawa aku keluar di kegelapan ini, aku ingin bersinar juga seperti mereka, tapi aku tidak bisa apa-apa. Semua hanya imajinasiku saja. Aku hanya seseorang yang bahkan belum selesai dengan dirinya sendiri.
Temen-temen, sebenernya aku pengen banget lebih sering berbagi cerita, atau sekedar mengungkapkan apa yang aku rasakan. Tapi aku tidak bisa janji, karena kadang bahkan untuk sekedar membaca novel atau buku kesukaan saja rasanya sulit. Apalagi aku udah mau masuk semester akhir.
Gak kerasa ya? Udah dua tahun aku kuliah, aku berharap akan dan selalu ada hal baik yang terus mengikuti langkah ku.
Jangan biarkan aku merasa tidak berguna
Jangan biarkan aku merasa aku tidak bernilai.
Komentar
Posting Komentar