Halo semua, rasanya sangat membosankan mendengar kata sapaan yang sama dalam setiap lembaran yang kalian baca. Apa kabar? Semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan, walaupun masalah selalu hadir tanpa di undang. Kali ini Aku ingin membagikan sebuah cerita tentang "Sudut Aku." Yang mungkin relate dengan apa yang kalian pikir dan rasakan.
Sudut Aku, dua kata yang Aku tulis untuk menggambarkan hal yang sedang aku rasakan sekarang. Fase remaja yang sekarang mulai beranjak dewasa, ternyata tidak semudah apa yang kita semua fikirkan. Hal indah yang kita bayangkan nyatanya mengalami banyak sekali lika-liku yang sangat sulit dan sakit, Aku tidak pernah membayangkan kalau ternyata rasanya sangat berat dan jauh dari apa yang Aku bayangkan. Sebentar, Aku mau tulis hal-hal yang pernah aku bayangkan ketika nanti Aku beranjak dewasa, yang pasti sih segala hal yang indah yang akan aku tulis.
Pertama, Aku membayangkan perjalanan yang sangat indah dan mulus, dari masa SMA, sampai nanti kuliah. Aku membayangkan semuanya dengan sangat berbinar. Mempunyai banyak teman, banyak relasi, di kenal banyak guru, punya banyak prestasi, mendapat nilai dan ranking tertinggi, mendapat beasiswa, lolos seleksi perguruan tinggi negeri, atau bahkan bisa kuliah di luar negeri. Nyatanya, yang aku rasakan tidak sehebat itu, punya banyak temen? Ya memang harus Aku akui kalau Aku memang pernah punya mereka, tapi sayangnya kita semua terpisah oleh satu masalah yang rumit untuk di jelaskan. Tidak usah berpikir siapa yang salah, yang jelas kita pernah berbagi cerita dan kisah bersama. Lalu, relasi? Aku rasa kali ini Aku gagal, nyatanya pertemanan Ku saja berantakan, di tambah Aku berubah menjadi pemalu di SMA, entah apa yang terjadi. Itu membuat impianku mempunyai banyak relasi hanya sekedar harapan dan angan-anagan belaka. Huh, kalo masalah prestasi dan nilai, kayanya engga gagal-gagal banget deh, ya walaupun nilai nya pas-pasan tapi cukup buat dapet ranking di kelas, ya iya sih jadi gagal seleksi perguruan tinggi negeri, tapi yang penting dapet beasiswa di universitas swasta, memang selalu ada hal yang bisa kita syukuri di balik banyak hal yang kita lewati.
Kedua, Aku membayangkan indahnya kisah persahabatan dan cinta seperti kebanyakan cerita novel yang Aku baca. Persahabatan yang abadi, seru, lucu, kompak, dan saling menyayangi, kisah cinta yang sangat amat romantis dengan cowo tampan, cuek, dingin, pinter dan perfect. Nyatanya yang Aku dapatkan adalah pengalaman pahit di akhir kelas dua belas dengan masalah-masalah rumit, dan kisah cinta yang tidak pernah terjadi. Hmm, mungkin pernah, tapi bukan Aku yang mengalaminya, tapi beberapa temanku yang mengalaminya. Lagian siapa yang mau sama Aku? Ok stop jangan di lanjut nanti semakin insecure.
Ternyata menjadi dewasa itu tidaklah mudah, banyak tantangan dan rintangan yang harus kita lewati dengan sabar dan ikhlas. Jujur, buat Aku pribadi sih susah banget ya jadi dewasa, banyak tangis, luka dan patah yang harus di lewati, entah sampe kapan ini terjadi. Mungkin menurut beberapa temen lain menjadi dewasa tidak se-sulit apa yang di lihat, tapi menurutku pribadi ini sangat amat sulit untuk aku lewati, karena nyatanya sampai sekarang aku belum bisa menjadi dewasa sepeti temen-temen kebanyakan.
Yang aku lakukan setiap hari hanyalah tidur, rebahan, scroll sosmed dan jajan. Sangat tidak produktif dan dewasa bukan? Aku mengakui nya, dengan rasa bersalah aku mengakuinya. Aku masih banyak egois dan mementingkan kesenangan pribadi, memikirkan hari ini dan apa yang akan terjadi hari ini, menonton film sampai pagi dan tidak memikirkan apapun tentang masa depan. Salah, Aku mengaku salah untuk hal ini.
Berkli-kali Aku mencoba untuk dewasa, menjadi orang yang lebih bermanfaat, tapi nyatanya sulit. Aku selalu gagal untuk berubah, merenung dan menangispun sepertinya enggak ada gunanya. Bagaimana caranya? Bagaimana Aku bisa keluar dari lingkarang tidak produktif seperti sekarang. Aku juga pengen kaya temen-temen lain yang bisa dewasa, mikirin dan jalanin masa depan dengan sinkron, beda sama diri ini yang cuma mikir masa depan sambil rebahan dan nonton film, gk ada aksi.
Apalagi kalo denger berita nikah muda, atau ada beberapa temen yang hampir seumuran udh kepikiran nikah. Rasanya pikiran itu belum sama sekali hinggap di dalem isi kepala, enggak pernah kebayang kalo harus nikah, sebenernya emang enggak ada yang salah dari kata nikah muda, tapi bagi aku pribadi yang masih di tahap mencari jati diri dan kedewasaan itu terdengar sangat next level. Pasalnya Aku seperti menolak untuk dewasa, Aku belum siap dengan perubahan dan kenyataan kalo Aku udh harus dewasa, udh bukan saatnya buat main-main kaya dulu.
Yang ada di isi kepalaku sekarang itu hanyalah pemikiran kalo aku ini masih kecil, belum pantes buat punya pasangan, melakukan hal-hal lain selain main sama sahabat-sahabat di rumah.l Berbeda dan sangat berbanding sama kondisi temen-temen lain yang sebaya, mereka kerja, main dan nongkrong sambil ngobrol, ngerjain tugas kuliah di cafe, dan lain sebagainya. Kehidupan mereka sudah luas, sementara kehidupanku masih di dalam rumah dan kamar, huh, rasanya pusing dan bingung sendiri kalo membahas ini.
Yasudah, sepertinya Sudut Aku harus berhenti di sini. Sebelum aku semakin bingung dengan arah dan masa depanku sendiri. Semoga kalian semua yang sedang ada di posisi Sudut Aku bisa segera menemukan jalan keluar, kalo udh tau jalan keluarnya jangan lupa sharing yaaa, jujur aku masih buntu dan gk tau arah banget. Hehehehe.
Ok semua makasih banyak yang udh mau dengerin curhatan dan bacotanku yang enggak ada faedahnya, mungkin ada sedikit, up to you yang penting makasih udh mau jadi teman cerita setia buat Aku. Dan ya mungkin setelahnya lebih enak pake kata Gua Lo gk sih? Atau emang lebih nyaman Aku Kamu? Hmm, gimana menurut kalian?.
See you 😊
Kita sama kack
BalasHapusrelate ya kak, semoga segera menemukan titik terbaik nanti bagi-bagi tips nya
Hapus"Pasalnya Aku seperti menolak untuk dewasa," huaaa relate
BalasHapussemoga segera menemukan titik temu ya kak, nanti kalo udah nemu jangan lupa kasih tau, hehehe
Hapus